laporan
Kamis, 02 Juli 2015
industri pakan
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pelleting merupakan salah satu metode pengolahan pakan secara mekanik yang banyak diterapkan di industri pakan unggas, khususnya ayam. Ayam merupakan ternak yang bersifat selektif terhadap pakan, yaitu cenderung memilih bahan pakan yang disukai. Ayam menyukai pakan berbentuk biji-bijian (grains) terkait dengan morfologi sistem pencernaannya, yaitu memiliki paruh untuk mematuk dan gizzard sebagai lokasi pencernaan secara mekanik (Elvira, 2009).
Apabila pakan disediakan dalam bentuk mash yang terdiri atas tepung dan biji-bijian, ayam akan memilih biji-bijiannya saja sehingga konsumsi pakan tidak sesuai dengan kebutuhan nutrien. Hal ini dapat dihindari dengan mengolah pakan menjadi bentuk yang mudah dikonsumsi dan disukai ayam, yaitu menjadi bentuk pellet. Selain mudah dikonsumsi oleh ayam, pellet juga mencegah perilaku ayam yang selektif terhadap bahan pakan (Ichwan, 2003).
Pengolahan pakan menjadi bentuk pellet (pelleting) memiliki sejumlah keuntungan, antara lain meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan kadar energi metabolis pakan, membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin (Yuni, 2007).
Menurut Rasyaf (1990), menjelaskan lebih lanjut keuntungan pakan bentuk pellet adalah meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi keambaan atau sifat bulky, dengan demikian akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer. Selain itu, pellet juga memerlukan lebih sedikit tempat penyimpanan dan biaya transportasi jika dibandingkan dengan bahan-bahan pakan penyusun pellet.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dilakukan percobaan ini untuk mengetahui proses pembuatan pakan pellet untuk unggas. Oleh karena itu untuk lebih jelasnya, maka perlu dilakukan praktikum ini.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana cara pembuatan pellet untuk ternak unggas?
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan pellet untuk ternak unggas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Gambaran Umum
Pellet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan sedemikian rupa dari bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat keambaan pakan. Keambaan pakan yang diolah menjadi pellet berkurang karena densitasnya meningkat. Pellet yang memiliki densitas tinggi akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer, serta mencegah de-mixing yaitu peruraian kembali komponen penyusun pellet sehingga konsumsi pakan sesuai dengan kebutuhan standar (Stevens,1987).
manfaat pelleting adalah untuk memudahkan penanganan pakan dan meningkatkan performans ternak. Pelleting meningkatkan kepadatan dan daya alir, mencegah pakan tercecer dan diterbangkan angin, serta meningkatkan konversi ransum. Peningkatan performans terjadi karena terjadi peningkatan kecernaan, penurunan pemisahan bahan penyusun ransum, lebih sedikit energi untuk mencerna pakan, serta peningkatan palatabilitas (Sarmono, 2007).
Pakan yang berbentuk pellet ini juga memiliki kelemahan diantaranya menyerap tambahan biaya investasi untuk membeli mesin pellet dan meningkatkan biaya operasional. Selain itu bentuk butiran lengkap ini (pellet) hanya dapat diberikan pada ayam dewasa. Pakan yang berbentuk pellet sendiri tidak meningkatkan laju pertumbuhan broiler. Laju pertumbuhan meningkat karena komsumsinya menjadi lebih banyak sehingga tumbuh lebih cepat. Selain itu juga semakain besar kemungkinan terjadinya kanibalisme atau saling patuk antara ayam (Sarmono, 2007).
Menurut Widhi (2013), secara umum berdasarkan bentuknya ada tiga jenis pakan untuk unggas, yaitu:
Mash ( berbentuk tepung).
Bentuk ini merupakan bentuk ransum yang umum terlihat. Bahan yang dipilih menjadi ransum digiling halus kemudian dicampur menjadi satu. Ransum bentuk ini menyebabkan ayam tidak bisa memilih bahan pakan yang disenangi. Hal ini berdasarkan sifat dan cara makan ayam yang lebih gemar memakan pakan yang berbentu butiran dan berwarna. Oleh karena itu ransum yang berbentuk tepung kurang disukai ayam. Bentuk ransum yang halus ini memiliki keuntungan lain, yaitu mudah diserap usus ayam sehingga efisiensinya lebih baik. Ransum bentuk ini dapat digunakan untuk semua umur dan harganya lebih murah.
Crumble (berbentuk pecah/butiran).
Bentuk ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari bentuk pellet. Bentuk ini banyak digunakan untuk semua umur ayam broiler. Ransum ini sudah lazim digunakan oleh peternak karena harganya tidak semahal ransum bentuk pellet.
Pellet (berbentuk bulat panjang).
Bentuk ini merupakan perkembangan dari bentuk tepung. Caranya pembuatannya sama dengan crumble. Tapi setelah penguapan, dimasukkan dalam mesin pencetak pellet sehingga keluar bentuk memanjang. Kemudian dipotong-potong dan dijemur atau dimasukkan ke dalam oven sampai kering. Pakan jenis ini pun cukup efisien. Kelemahan dari bentuk ini adalah memungkinkan terjadinya kanibalisme, kurang cocok untuk anak ayam.
2. Gambaran Khusus
Konsentrat adalah pakan ternak yang mengandung serat kasar rendah energi dan BETN yang tinggi serta mudah dicerna oleh ternak. Konsentrat dapat pula diartikan sebagai bahan pakan penguat yang dipergunakan bersama bahan pakan lain, untuk meningkatkan gizi dan dimasukan untuk disatukan dan dicampur sebagai suplemen atau pakan pelengkap. Konsentrat adalah makanan dengan kadar protein tinggi 32% untuk ayam dan 38% untuk bebek atau itik (Yuni, 2007).
Konsentrat meliputi biji-bijian (jenis padi-padian, kacang-kacangan) hasil ikutan dari penggilingan dan biji-bijian antara lain dedak padi, dedak jagung, dedak gandum dan lain-lain. Konsentrat dikelompokan menjadi 2 yaitu Proteinaceous concentrate dan Carbonaceous concentrate. Carbonaceous concentrate adalah konsentrat yang mengandung energi tinggi, sedangkan Proteinaceous concentrate adalah konsentrat yang kaya protein (Widhi, 2013).
Konsentrat sumber energi disebut juga Carbonaseous yaitu pakan yang berenergi tinggi, proteinya rendah, cotohnya yaitu biji-bijian dan hasil ikutannya. Secara umum berenergi tinggi yaitu kandungan TDN atau NE berserat rendah (< 18%) kualitas protein bervariasi biasanya rendah (< 20%). Untuk mineralnya P cukup tinggi dan Ca rendah serta untuk vitamin; vitamin D rendah, vitamin B1 dan Niacin tinggi, Riboflavin, vitamin B12, dan Pantotanik rendah dan untuk vitamin E juga rendah (Yuni, 2007).
Bahan pakan konsentrat mempunyai karakteristik umum yaitu a) Carbonaceus concentrat adalah bahan pakan yang berenergi tinggi, terdapat pada biji-bijian yang hasil ikutannya berserat rendah kurang dari 18 % . Kualitas protein bervariasi tetapi biasanya rendah kurang dari 20 % mengandung phosfor cukup tinggi tetapi kalsium dan vitamin D rendah, namun vitamin B tinggi, b) Proteinaceous adalah protein yang bervariasi ditentukan oleh jumlah dan rasio asam amino esensial yang berada dalam pakan, c) Proteinaceous Roughages adalah pada umumnya berupa legum dengan karakteristik dapat memproduksi pakan yang palatable dalam jumlah banyak per hektar. Kandungan protein dan kalsium tinggi. Kandungan phosphor tinggi, kandungan vitamin A tinggi, dapat menaikkan kesuburan tanah dan dapat dikombinasikan dengan rumput, d) Carbonaceous Roughages, termasuk bahan ini adalah corn dan sorgum silages, sorgum pasture, corn cabs, corn slover, cain stalk dan straw atau jerami, dan e) adalah additif material yaitu nutrien yang terdiri antibiotik hormon (Widhi, 2013).
Jagung (Zea mays ) merupakan tanaman serealia yang produktif di dunia dan juga merupakan sumber karbohidrdat yang penting selain gandum dan padi. Jagung sudah cukup lama dikenal di Indonesia, bahkan di zaman Majapahit sudah digunakan sebagai bahan konsumsi harian. Jagung merupakan tanaman monoktil dengan tinggi antara 2-3 m dengan ciri-ciri berakar serabut, tulang daun sejajar daun,bunga berjumlah ganjil. Tanaman Jagung tumbuh dengan baik di daerah tropis dengan tanah gembur, dapat ditanam pada lahan kering, sawah irigasi dan sawah tadah hujan. Suhu optimum pertumbuhan 26-30°C dan pH tanah 5,7-6,8.Tumbuh pada pola tanam tumpang sari (Pujaningsih, 2013).
Selain dimanfaatkan sebagai makanan pokok selain padi,jagung juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Jagung kuning merupakan salah satu komponen bahan pakan,dan menempati urutan tertinggi dalam hal persentase komponen bahan pakan dalam ransum ayam broiler (Rasyaf, 1996).
Jagung kuning merupakan makanan yang digemari ayam broiler karena jagung kuning mempunyai pigmen crytoxanthin yang merupakan precusor vitamin A yang menyebabkan warna yang menarik pada karkas ayam broiler. Namun,ayam broiler tidak akan makan jagung berlebihan (tidak lebih dari 33%) karena kualitas protein dan asam amino yang terkandung membatasi pemakaian jagung kuning sebagai bahan makanan sumber energi yang handal (Priyatno, 2010).
Komponen utama jagung adalah pati, yaitu sekitar 70 % dari bobot biji. Komponen karbohidrat lain adalah gula sederhana, yaitu glukosa, sukrosa dan fruktosa, 1– 3 % dari bobot biji. Pati terdiri atas dua jenis polimer glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan rantai unit-unit D-glukosa yang panjang dan tidak bercabang, digabungkan oleh ikatan α (1→4), sedangkan amilopektin strukturnya bercabang. Ikatan glikosidik yang menggabungkan residu glukosa yang berdekatan dalam rantai amilopektin adalah ikatan α (1→4), tetapi titik percabangan amilopektin merupakan ikatan α(1→6). Bahan yang mengandung amilosa tinggi jika direbus, amilosanya tergelatinisasi oleh air panas, sehingga terlihat warna putih seperti susu (Rasyaf, 1990).
Jagung mempunyai kandungan protein kasar yang beragam, mulai dari 8%-13%. Hal ini terjadi karena varietas jagung, kualitas tanah dan usia panen jagung itu sendiri, tetapi jagung mempunyai kandungan energi metabolisme (ME) sebesar 3430 kkal/kg, lemak 3,9%, serat kasar 2%, kalsium 0,02%, fosfor 0,3% dan energy tercerna (DE) yang baik. Kandungan serat kasarnya rendah tetapi kualitas proteinnya tidak tinggi (Priyatno, 2010).
Penggunaan jagung bagi pakan ternak terutama unggas rata-rata berkisar 45-55% porsinya. Hal ini karena jagung mempunyai banyak keunggulan di bandingkan bahan baku lainnya. Dua diantara keunggulan jagung adalah kandungan energinya yang bisa mencapai 3350 kcal/kg dan xantophil yang cukup tinggi. Dari sisi asam amino jagung dipandang sebagai bahan yang cukup kaya akan methionine (rasio) sehingga kombinasi jagung dengan sumber lysine seperti Soybean Meal dirasa cukup baik dalam penyusunan ransum. Namun demikian, kandungan energi, xantophil dan asam amino jagung sebenarnya di pengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu contoh adalah kadar air, semakin tinggi kadar air jagung maka semakin rendah kandungan energi di dalamnya (Rasyaf, 1990).
Untuk ayam broiler masa awal sebaiknya jagung digunakan tidak lebih dari 25% dan tidak kurang dari 10%. Sedangkan untuk masa akhir maksimum 28%-31% dan dianjurkan tidak kurang dari 5%. Penggunaan jagung untuk ayam broiler berupa jagung halus atau jagung giling pecah dalam formula ransum atau tercampur dengan bahan makanan lainnya. Di samping itu jagung kuning juga dapat diberikan terpisah bila mempergunakan system pemberian makanan “mash-grain”. Hingga kini jagung masih diikut sertakan dalam formula ransum unggas umumnya dan ayam broiler khususnya (Soejono, 1999).
Dedak padi adalah hasil samping dari pabrik penggilingan padi dalam memproduksi beras, yaitu bagian luar (kulit ari) beras yang dibuang pada waktu dilakukan (pemutihan) beras. Dedak (bran) berasal dari hasil samping proses penggilingan padi, terdiri atas lapisan sebelah luar butiran padi dengan sejumlah lembaga biji (Rizali, 2010).
Dedak diperoleh dari pemisahan beras dengan sekam (kulit gabah) pada gabah yang telah dikeringkan melalui proses pemisahan dengan digiling atau ditumbuk yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. Proses pemisahan menjadi dedak ini akan mendapatkan 10% dedak padi, 50 % beras dan sisanya hasil ikutan seperti pecahan butir beras, sekam dan sebagainya, akan tetapi persentase ini tergantung pada umur dan varietas padi yang ditanam (Rasyaf, 1990).
Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum mengalami ketengikan selama penyimpanan. Bulk desinty dedak padi yang baik adalah 337,2 - 350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik mengandung protein rata-rata dalam bahan kering adalah sebesar 12,4 %, lemak 13,6 % dan serat kasar 11,6 %. Kandungan protein dedak padi lebih berkualitas dibandingkan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin (Rizali, 2010).
Produk sampingan dari penggilingan padi (Oryza sativa) adalah dedak Sebenarnya, pada proses penggilingan padi, hasil yang didapatkan selain beras, adalah bekatul padi (sebanyak 2-3%), dedak padi (6-8%), dan sekam (20%). Dedak padi adalah by-product utama yang didapatkan dari proses penggilingan padi. Bekatul, yang dihasilkan dari lapisan bagian dalam biji, lebih banyak penggunaannya dibandingkan dengan dedak. Hal ini karena kadar serat yang dikandungnya lebih rendah dan kandungan ME yang lebih tinggi. Namun demikian, ketersediaan bekatul sangat sedikit karena tidak semua penggilingan padi mengoperasikan mesin penggiling multiple-stage yang memisahkan bekatul dari dedak (Rasyaf, 1990).
Komposisi kimia dedak padi sangat bervariasi. Variasi yang ada semata-mata disebabkan kontaminasi sekam yang terikut, dan ini biasanya disebabkan oleh jenis mesin penggiling. Dedak kualitas bagus mengandung sekitar 13% PK, 13% lemak, dan 13% serat dan kaya sumber vitamin B dan trace mineral. Nilai ME dedak padi, selain mengandung serat, relatif tinggi. Sementara itu, kandungan lemak yang tinggi harus diperhitungkan, dimana hal ini dapat menyebabkan masalah ransiditas (ketengikan) selama dalam penyimpanan di climat tropis. Dedak padi mengandung enzim lipolytic yang menjadi aktif ketika dedak dipisahkan dari beras dan kandungan asam lemak bebas meningkat dengan cepat (Rizali, 2010).
Dedak padi cukup disenangi ternak tetapi pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya hanya sampai 15% dari campuran konsentrat karena dedak padi memiliki zat antinutrisi inhibitor tripsin dan asam fitat. Inhibitor tripsin dapat menghambat katabolisme protein, karena beberapa proteosa dan pepton dihancurkan oleh tripsin menjadi peptida sehingga apabila terganggu maka ketersediaan asam amino (Rasyaf, 1990).
Penggunaan dedak padi dalam jumlah besar pada ransum tidak memungkinkan dan perlu dibatasi. Jumlah dedak padi yang dapat digunakan dalam ransum unggas terbatas yaitu sebesar 10-20%. Salah satu pertimbangan pembatasan jumlah penggunaan dedak padi adalah asam fitat. Pada butir padi-padian yang sudah tua, P-fitat berjumlah sekitar 60 sampai 80 persen dari P total (Rizali, 2010).
Penggunaan dedak padi sebagai makanan ternak dibatasi oleh adanya ketidakstabilan dedak selama penyimpanan. Ketidakstabilan ini terutama disebabkan oleh adanya enzim lipase yang terdapat dalam dedak. Selain itu didalam dedak padi juga terdapat enzim peroksidase yang dapat menyebabkan kerusakan atau ketengikan oksidatif pada komponen minyak yang ada dalam dedak (Rasyaf, 1990).
Permasalahan lain yang ada dalam penggunaan dedak padi sebagai pakan ternak yaitu adanya kandungan asam fitat. Asam fitat akan membentuk garam yang tidak larut apabila asam fitat tersebut berikatan dengan fosfor dan mineral lain sehingga mineral-mineral tersebut tidak dapat diserap oleh usus. Asam fitat mempunyai muatan negatif pada pH rendah, pH netral dan pH tinggi. Sehingga asam fitat dapat berikatan dengan ion logam seperti P, Ca, Mg, Zn serta protein positif seperti gugus amino terminal pada pH dibawah titik isoeletriknya. Dengan terbentuknya senyawa fitat-mineral atau fitat protein yang tidak larut dapat menyebabkan penurunan ketersediaan mineral dan nilai gizi protein (Rizali, 2010).
Pembuatan pelet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan. Proses penting dalam pembuatan pelet adalah pencampuran (mixing), pengaliran uap (conditioning), pencetakan (extruding) dan pendinginan (cooling) (Sarmono, 2011).
Proses kondisioning adalah proses pemanasan dengan uap air pada bahan yang ditujukan untuk gelatinisasi agar terjadi perekatan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pelet menjadi kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus. Proses kondisioning ditujukan untuk gelatinisasi dan melunakkan bahan agar mempermudah pencetakan. Disamping itu juga bertujuan untuk membuat : (1) Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit; (2) Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat; (3) Pakan menjadi lebih lunak sehingga ternak mudah mencernanya dan (4) Menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ternak (Pujaningsih, 2006).
Menurut Walker (1984), menjelaskan bahwa selama proses kondisioning terjadi penurunan kandungan bahan kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan dan menguapnya sebagia n bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar air bahan berkisar 15 – 18%.
Tepung tapioka merupakan pati yang diekstrak dari singkong. Tepung tapioka adalah salah satu hasil olahan dari ubi kayu. Dalam bentuk umbi, tepung tapioka lazim juga disebut tepung aci. Tepung aci ini umumnya berbentuk butiran pati yang banyak terdapat dalam sel umbi ubi kayu. Dengan cara memisahkan komponen sel pati inti dengan komponen lainnya maka akan diperoleh tepung tapioka. Dalam memperoleh pati dari singkong (tepung tapioka) harus dipertimbangkan usia atau kematangan dari tanaman singkong (Siti, 2013).
Ada empat tahapan yang harus dilakukan dalam proses pembuatan tepung tapioka yaitu : 1) Tahap pemecahan sel dan pemisahan butiran pati dari unsur lain yang tidak larut, melalui kegiatan pengupasan, pencucian, pemarutan dan penyaringan; 2) Tahap pengambilan pati dengan penambahan air, termasuk juga perlakuan ini adalah proses pengendapan dan pencucian; 3) Tahap pembuangan atau penghilangan air. Untuk membantu kegiatan ini bisa dilakukan dengan pengeringan melalui panas dan pemusingan; 4) Tahap terakhir adalah melakukan penepungan agar diperoleh tepung yang dikehendaki (Yuni, 2007).
Pelleting merupakan salah satu metode pengolahan pakan secara mekanik yang banyak diterapkan di industri pakan unggas, khususnya ayam. Ayam merupakan ternak yang bersifat selektif terhadap pakan, yaitu cenderung memilih bahan pakan yang disukai (Rasyaf, 1990).
Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam pembuatan pakan berbentuk pellet, yaitu secara manual dan atau dengan menggunakan mesin (feedmill). Pembuatan pakan secara manual dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang sederhana. Alat yang dipergunakan adalah sekop (paddle) atau drum yang dirancang dengan mengunakan prinsip kerja mixer. Cara yang kedua dengan menggunakan mesin. Mesin pembuat pakan ini terdiri atas mesin-mesin penggiling (hammer mill), mesin penimbang (weigher), mesin pemusing (cyclone), mesin pengangkat/pemindah bahan (auger, elevator), mesin penghembus (blower), mesin pencampur (mixer), dan mesin pembuat pellet. Untuk pembuatan pellet menggunakan alat blower, boiler, mash bin, cooler, die, screw conveyor, mixer, vibrator dan transporter (Sarmono, 2007).
Menurut Soedjono (1996), proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap yaitu sebagai berikut:
Pengolahan Pendahuluan, ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan.
Pembuatan pellet terdiri atas proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan.
Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan.
Menurut Widhi (2013), beberapa proses vital yang menjadi perhatian banyak peneliti dalam serangkaian proses produksi pellet antara lain:
Grinding, proportioning and mixing
Setelah melalui tahap penerimaan bahan dan pembersihan, umumnya bahan penyusun pelet, yang kebanyakan berupa bijian, memerlukan penggilingan untuk memperkecil ukuran partikel sehingga memudahkan untuk mencampur (mixing) menjadi ransum. Proportioning dapat dilakukan dengan dua metode dasar, yang biasa disebut cyclical (batch), yaitu bahan penyusun ditimbang tersendiri dalam bagian bagiannya. Sedangkan metode yang lainnya adalah continuous system yang menggunakan bahan bersama sama dan berkelanjutan saat penambahan bahan tersebut. untuk memperoleh campuran yang homogen dari proporsi beberapa bahan tersebut, diperlukan alat mixing yang layak.
Steam conditioning
Proses conditioning dengan menggunakan steam pada dasarnya merupakan proses utama dalam proses pelleting. Untuk menjalankannya, diperlukan ketepatan kombinasi antara panas dan air. Steam memiliki kemampuan untuk mengkombinasikan keseimbangan antara panas dan air, sehingga akan mudah mengontrol keduanya. Tujuan dari pemberian panas selama conditioning adalah untuk meningkatkan sifat mengikat pada bahan dan menghilangkan patogen pada bahan yang bisa mencemari pakan nantinya.
Pelleting process
Proses pelleting secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai proses pengumpulan dari beberapa partikel kecil dengan menggunakan proses mekanik dan kombinasi dengan air, panas dan tekanan. Pelet dibentuk dengan melewatkan mash panas melalui lubang die dari metal yang akan diikuti dengan pendinginan.
Cooling
Proses ini bertujuan untuk menurunkan kandungan air dan panas yang tertinggal setelah bahan melalui proses kondisioner dan pelleting. Secara umum pelet keluar dari die pada kisaran suhu 60-95oC dengan kandungan kadar air 120-175g/kg. Selama proses cooling, kandungan air dalam pellet akan diturunkan, sehingga memungkinkan penyimpanan pakan tersebut untuk waktu tertentu. Jumlah air dan panas yang didesipasi dari pellet merupakan suatu fungsi dari laju udara dan properti udara, karakter bahan baku dan ukuran pellet.
Pengeringan
Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pellet sistem kering, cukup dikering-anginkan saja hingga uap panasnya hilang, sehingga pellet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung.
Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran dibawah terik matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu, kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa bibit penyakit. Mesin pengering yang umum digunakan sangat beragam, diantaranya oven pengering.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
1. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilakukannya pratikum pembuatan pellet yaitu:
Hari/tanggal : Senin 08 Juni 2015
Pukul : 08.00 – Selesai
Tempat : di Laboratorium Terpadu Ilmu Peternakan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
2. Alat dan Bahan
b. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu baskom, ember, gas, kompor, mesin pencetak pellet, panci, pengaduk, talenan dan timbangan.
a. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu air secukupnya, dedak padi 0,35 kg, jagung kuning 0,30 kg, konsentrat 0,30 kg dan tepung tapioka 0,05 kg.
3. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
Menghitung formulasi bahan baku yang akan digunakan untuk pembutan 2 kg pakan pellet.
Menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan pakan pellet.
Menimbang semua bahan yaitu masing-masing dedak padi 0,35 kg, konsentrat 0,30 kg, tepung tapioka 0,05 kg dan jagung kuning 0,30 kg.
Mencampur semua bahan sampai homogen sambil menambahkan air sedikit demi sedikit sampai membentuk adonan.
Memasukkan adonan yang sudah dicampur ke dalam panci yang sebelumnya telah diisi dengan air.
Mengukus (steam) adonan sampai berubah warna dan mengadukan agar adonan matang secara merata.
Mengangkat adonan dan memindahkan adonan ke dalam baskom.
Mencetak adonan dengan menggunakan mesin pencetak pellet.
Memasukkan pellet ke dalam oven sampai kering. Apabila tidak ada oven pellet dapat dijemur di bawah sinar matahari.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
Bahan Pembuatan Pellet
Tabel 6. Uji Organoleptik Bahan Pembuatan Pellet
Bahan Pakan Bentuk Warna Aroma Tekstur
Dedak padi Butiran halus Coklat muda Khas padi Agak halus
Konsentrat Tepung Kuning Kecoklatan Tengik Agak halus
Tepung tapioka Tepung Putih Tidak beraroma Halus
Jagung kuning Pecahan kecil Kuning Khas jagung Kasar
Sumber: Laboratorium Terpadu Ilmu Peternakan Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar 2015.
Setelah Pengukusan
Tabel 7. Uji Organoleptik Pellet Setelah Pengukusan
Bahan Pakan Bentuk Warna Aroma Tekstur
Adonan semua bahan pakan Pasta padat coklat kekuningan Khas pellet Agak kasar
Sumber: Laboratorium Terpadu Ilmu Peternakan Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar 2015.
Setelah Pencetakan
Tabel 8. Uji Organoleptik Pellet Setelah Pengukusan
Sampel Bentuk Warna Aroma Tekstur
Pellet Butiran memanjang Coklat Khas pellet Padat
Sumber: Laboratorium Terpadu Ilmu Peternakan Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar 2015.
Analisis Data
Adapun analisis data yang diperoleh dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
Komposisi Tiap Bahan Pakan
Bahan Pakan Jumlah (%) Protein (%) Lemak (%) Serat Kasar (%) Fosfor (%) Kalsium (%) EM (kkal/kg)
Dedak Padi 15 12,0 12,1 13,0 1,0 0,20 2400
Konsentrat 30 36,0 5,5 8,0 1,40 2,8 2100
Tepung Tapioka 10 0,86 0,25 0,10 0,05 0,31 2970
Jagung Kuning 45 9,0 4,10 2,20 0,29 0,03 3430
Tabel 9. Komposisi Nutrisi Bahan Pakan Pembuat Pellet
Sumber : wanasuria. 1995.
Komposisi Bahan Pakan Dalam Pakan Pellet
Tabel 10. Komposisi Bahan Pakan dalam Ransum Pellet
Bahan Pakan Jumlah (%) Protein (%) Lemak (%) Serat Kasar (%) Fosfor (%) Kalsium (%) EM (kkal/kg)
Dedak Padi 0,35 3,6 3,63 3,9 0,3 0,06 720
Konsentrat 0,30 21,6 3,3 4,8 0,84 1,68 1260
Tepung Tapioka 0,05 0,172 0,05 0,02 0,01 0,062 594
Jagung Kuning 0,930 8,1 3,69 1,98 0,261 0,027 3087
Sumber: Hasil Pengamatan Laboratorium Ilmu Peternakan Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar 2014.
Perhitungan
Perhitungan Komposisi Bahan Pakan dalam Pembuatan Pellet
Dedak Padi
Dedak padi = 15/100 x 2
= 0,15 x 2
= 0,3 kg
Kosentrat
Kosentrat = 30/100 x 2
= 0,3 x 2
= 0,6 kg
Tepung Tapioka
Tepung tapioka = 10/100 x 2
= 0,1 x 2
= 0,2 kg
Jagung Kuning
Jagung kuning = 45/100 x 2
= 0,45 x 2
= 0,9 kg
Perhitungan Protein Bahan Pakan dalam Ransum
Dedak Padi
Dedak padi = jumlah dedak padi x protein dedak padi
= 0,35 x 12,0
= 3,6 %
Kosentrat
Kosentrat = jumlah kosentrat x protein kosentrat
= 0,6 x 36,0
= 21,6 %
Tepung Tapioka
Tepung tapioka = jumlah tepung tapioka x protein tepung tapioka
= 0,2 x 0,86
= 0,172 %
Jagung Kuning
Jagung kuning = jumlah jagung kuning x protein jagung kuning
= 0,9 x 9,0
= 8,1 %
Perhitungan Lemak Bahan Pakan dalam Ransum
Dedak Padi
Dedak padi = jumlah dedak padi x lemak dedak padi
= 0,3 x 12,1
= 3,63 %
Kosentrat
Kosentrat = jumlah kosentrat x lemak kosentrat
= 0,6 x 5,5
= 3,3 %
Tepung Tapioka
Tepung tapioka = jumlah tepung tapioka x lemak tepung tapioka
= 0,2 x 0,25
= 0,05 %
Jagung Kuning
Jagung kuning = jumlah jagung kuning x protein jagung kuning
= 0,9 x 4,1
= 3,69 %
Perhitungan Serat Kasar Bahan Pakan dalam Ransum
Dedak Padi
Dedak padi = jumlah dedak padi x serat kasar dedak padi
= 0,3 x 13,0
= 3,9 %
Kosentrat
Kosentrat = jumlah kosentrat x serat kasar kosentrat
= 0,6 x 8,0
= 4,8 %
Tepung Tapioka
Tepung tapioka = jumlah tepung tapioka x serat kasar tepung tapioka
= 0,2 x 0,10
= 0,02 %
Jagung Kuning
Jagung kuning = jumlah jagung kuning x serat kasar jagung kuning
= 0,9 x 2,20
= 1,98 %
Perhitungan Phosfor Bahan Pakan dalam Ransum
Dedak Padi
Dedak padi = jumlah dedak padi x phosfor dedak padi
= 0,3 x 1,0
= 0,3 %
Kosentrat
Kosentrat = jumlah kosentrat x phosfor kosentrat
= 0,6 x 1,40
= 0,84 %
Tepung Tapioka
Tepung tapioka = jumlah tepung tapioka x phosfor tepung tapioka
= 0,2 x 0,05
= 0,01 %
Jagung Kuning
Jagung kuning = jumlah jagung kuning x phosfor jagung kuning
= 0,9 x 0,29
= 0,261 %
Perhitungan Kalsium Bahan Pakan dalam Ransum
Dedak Padi
Dedak padi = jumlah dedak padi x kalsium dedak padi
= 0,3 x 0,2
= 0,06 %
Kosentrat
Kosentrat = jumlah kosentrat x kalsium kosentrat
= 0,6 x 2,8
= 1,68 %
Tepung Tapioka
Tepung tapioka = jumlah tepung tapioka x kalsium tepung tapioka
= 0,2 x 0,31
= 0,062 %
Jagung Kuning
Jagung kuning = jumlah jagung kuning x kalsium jagung kuning
= 0,9 x 0,31
= 0,062 %
Perhitungan Energi Metabolis (EM) Bahan Pakan dalam Ransum
Dedak Padi
Dedak padi = jumlah dedak padi x EM dedak padi
= 0,3 x 2400
= 720 Kkal/kg
Kosentrat
Kosentrat = jumlah kosentrat x EM kosentrat
= 0,6 x 2100
= 1260 Kkal/kg
Tepung Tapioka
Tepung tapioka = jumlah tepung tapioka x EM tepung tapioka
= 0,2 x 2970
= 594 Kkal/kg
Jagung Kuning
Jagung kuning = jumlah jagung kuning x EM jagung kuning
= 0,9 x 3430
= 3087 Kkal/kg
b. Pembahasan
Bahan Pakan Pembuatan Pellet
1. Dedak Padi
Dedak padi merupakan salah satu jenis bahan yang digunakan dalam menyusun ransum pakan dalam bentuk pellet. Ciri-ciri dedak padi setelah dilakukan uji organoleptik adalah berbentuk butiran halus, berwarna cokelat, dengan tekstur agakhalus dan beraroma khas padi. Dedak padi yang digunakan dalam praktikum ini yaitu dedak halus. Disamping itu, dijelaskan bahwa dedak halus dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan pellet, karena banyaknya keunggulan dan kelebihan yang dimiliki oleh dedak halus tersebut sebagai bahan sisa.
Kandungan nutrisi dari dedak padi protein sebesar 12%, lemak 12,1%, serat kasar 13%, phosphor 1,0%, kalsium 0,2% dan energi metabolismenya sebesar 2400 Kkal/kg. Persentase dedak padi yang digunakan dalam penyusunan pellet adalah 15%, sehingga jumlah dedak padi yang digunakan untuk membuat pellet sebanyak 2 kg adalah 0,3 kg. Disamping itu, dijelaskan bahwa persentase penggunaan dedak padi jumlah dedak padi yang dapat digunakan dalam menyusun ransum ayam terbatas yaitu sebesar 10-20%.
Setelah dilakukan perhitungan, maka didapatkan komposisi dedak padi yang digunakan adalah protein 3,6%, lemak 3,63%, serat kasar 3,9%, phosphor 0,3%, kalsium 0,06% dan energi metabolisme 720 Kkal/kg.
2. Jagung Kuning
Jagung kuning merupakan salah satu jenis bahan yang mempunyai kandungan energi tertinggi atau sebagai sumber energi utama dibanding dengan bahan pakan lain yang digunakan dalam pembuatan pellet. Ciri-ciri jagung kuning setelah dilakukan uji organoleptik adalah berbentuk pecahan kecil, berwarna kuning, dengan tekstur kasar dan beraroma khas jagung. Disamping itu, dijelaskan bahwa kandungan energi jagung kuning merupakan sumber energi utama pada unggas. Jagung kuning sebagai sumber pro-vitamin A atau beta carotene dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi konsumen terhadap warna kuning dari karkas.
Kandungan nutrisi terdiri dari jagung kuning protein sebesar 9,0%, lemak 4,1%, serat kasar 2,20%, phosphor 0,29%, kalsium 0,03% dan energi metabolisme sebesar 3430 Kkal/kg. Persentase jagung kuning yang ditemukan dalam penyusunan pellet adalah 45%, sehingga jumlah jagung kuning yang dipergunakan untuk membuat pellet sebanyak 2 kg adalah 0,9 kg. Disamping itu, dijelaskan bahwa persentase penggunaan jagung kuning jumlah jagung kuning yang dapat digunakan dalam menyusun ransum kurang dari 60% untuk unggas.
Setelah dilakukan perhitungan, maka didapatkan komposisi jagung kuning yang digunakan adalah protein 8,1%, lemak 3,69%, serat kasar 1,98%, phosphor 0,261%, kalsium 0,027% dan energi metabolisme 3087 Kkal/kg.
3. Kosentrat
Kosentrat atau pakan penguat merupakan gabungan dari berbagai jenis bahan pakan yang digunakan dalam pembuatan pellet, yang kandungan proteinnya relatif tinggi. Ciri-ciri kosentrat setelah dilakukan uji organoleptik adalah berbentuk tepung, berwarna kuning kecokelatan, dengan tekstur agak halus dan beraroma tengik. Disamping itu, dijelaskan bahwa komposisi kosentrat terdiri dari berbagai jenis bahan pakan yang mudah untuk dicerna. Kosentrat digunakan terutama pada saat pertumbuhan, karena biasanya kosentrat terdiri dari bahan pakan yang banyak mengandung protein.
Kandungan nutrisi dari kosentrat terdiri dari protein sebesar 36%, lemak 5,5%, serat kasar 8,0%, phosphor 1,40%, kalsium 2,8% dan energi metabolismenya sebesar 2100 Kkal/kg. Persentase kosentrat yang ditemukan dalam penyusunan pellet adalah 30%, sehingga jumlah kosentrat yang dipergunakan untuk membuat pellet sebanyak 2 kg adalah 0,6 kg. Disamping itu, dijelaskan bahwa persentase penggunaan kosentrat yang dapat digunakan dalam menyusun ransum kurang dari 40%.
Setelah dilakukan perhitungan, maka didapatkan komposisi kosentrat yang digunakan adalah protein 21,6%, lemak 3,3%, serat kasar 4,8%, phosphor 0,84%, kalsium 1,68% dan energi metabolisme 1260 Kkal/kg.
4.Tepung Tapioka
Tepung tapioka merupakan salah satu jenis bahan yang digunakan dalam ransum pakan dalam bentuk pellet yang terbuat dari singkong, yang mempunyai kandungan energi tertinggi kedua dari jagung kuning. Ciri-ciri tepung tapioka setelah dilakukan uji organoleptik adalah berbentuk tepung, berwarna putih, dengan tekstur halus dan tidak beraroma. Disamping itu, dijelaskan bahwa bahan pembuat tapioka tepung tapioka merupakan hasil olahan dari ubi kayu dan mempunyai banyak kegunaan. Antara lain sebagai bahan pembantu industri, dibandingkan dengan tepung jagung, kentang dan gandum. Komposisi zat gizi tepung tapioka cukup baik, juga digunakan sebagai bahan perekat dalam pembuatan pakan ternak.
Kandungan nutrisi dari tepung tapioka terdiri dari protein sebesar 0,86%, lemak 0,25%, serat kasar 0,10%, phosphor 0,05%, kalsium 0,31% dan energi metabolisme sebesar 2970 Kkal/kg. Persentase kosentrat yang ditemukan dalam penyusunan pellet adalah 10%, sehingga jumlah kosentrat yang dipergunakan untuk membuat pellet sebanyak 2 kg adalah 0,2 kg. Disamping itu, dijelaskan bahwa persentase penggunaan kosentrat tepung tapioka sebagai ransum ayam ras direkomendasikan batas penggunaan maksimum adalah 20-40% untuk ransum bentuk tepung. Sedangkan batas pengguaan untuk ransum pellet adalah 50-60%.
Setelah dilakukan perhitungan, maka didapatkan komposisi tepung tapioka yang digunakan adalah protein 0,172%, lemak 0,05%, serat kasar 0,02%, phosphor 0,01%, kalsium 0,062% dan energi metabolisme 594 Kkal/kg.
5. Pembuatan Pellet
Dalam membuat pakan bentuk pellet, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan, yakni melakukan formulasi bahan pakan terlebih dahulu, kemudian menyiapkan alat dan bahan yang akan digunkan. Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan pellet adalah alat atau mesin pencetak pellet, baskom, kompor, panci, nampan plastik, pengaduk dan timbangan manual.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pellet adalah air, dedak padi, gas, jagung kuning, kosentrat dan tepung tapioka. Setelah alat dn bahan tersedia, maka dilakukan penimbangan untuk setiap bahan pakan sesuai dengan formulasi ransum yang telah didapatkan, yakni dedak padi 0,3 kg, jagung kuning 0,9 kg, konsentrat 0,6 kg dan tepung tapioka 0,2 kg, sehingga jumlah total bahan pembuatan pellet adalah sebanyak 2 kg.
Setelah proses penimbangan dilakukan, maka selanjutnya adalah dilakukan pencampuran semua bahan pakan yang telah ditimbang dengan menambahkan air secukupnya hingga adonannya membentuk pasta, kemudian dilakukan \pemasakan atau pengaliran uap hingga warna adona berubah dan dicetak serta dikeringkan kemudian didinginkan. Disamping itu, dijelaskan bahwa proses pembuatan pellet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan. Proses penting dalam pembuatan pellet adalah pencampuran (mixing), pengaliran uap (conditioning), pencetakan (extruding) dan pendinginan (cooling).
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum pembuatan pellet yaitu mengenai proses pembuatan pellet. Proses pembuatan pellet meliputi beberapa tahap, yakni formulasi, penimbangan, pencampuran (mixing), pengaliran uap (conditioning), pencetakan (extruding) dan pegeringan (drying).
2. Saran
Adapun saran saya untuk praktikum selanjutnya yaitu sebaiknya bahan digunakan dalam pembuat pellet ditambah lagi untuk melengkapi apabila terdapat kekurangan zat nutrisi (gizi) dari salah satu bahan pakan.
DAFTAR PUSTAKA
Elvira, D. 2009. Pellet. http://elviradelimasuciana.blogspot.com. Diakses 05 Januari 2014.
Ichwan, W.M. 2003. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging Cet I. PT. Agromedia Pustaka: Jakarta.
Prayitno, E. 2010. Kosentrat. http://ilmu ternak kita. blogspot.com. Diakses tanggal 05 Januari 2014.
Pujaningsih, R. I. 2011. Modul kuliah Teknologi Pengolahan Pakan. Universitas Diponegoro: Semarang.
Rasyaf, M. 1990. Bahan Makanan Unggas. Kanisius: Yogyakarta.
Soedjono, M. 1999. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas Peternakan UGM: Yogyakarta.
Rizali, Y. J. 2011. Dedak Padi. http://yusufjafarrizali.wordpress.com. Diakses tanggal 04 Januari 2014.
Sarmono, B. 2007. Beternak Ayam Buras. Penebar Swadaya: Jakarta.
Siti, N. 2013. Pembuatan Tepung Tapioka. http://cybex.deptan.go.id. Diakses 11 Januari 2014.
Stevens, C. A. 1987. Starch Gelatinization And The Influence Of Particle Size, Steam Pressure And Die Speed On The Pelleting Process.Kansas State University: Manhattan.
Widhi, K. 2013. Pakan Bentuk Pellet. http://ourmindshare. blogspot.com. Diakses 05 Januari 2014.
Yuni, P. 2007. Pembuatan Pakan Bentuk Pellet. http://primandini. blogspot.com. Diakses 05 Januari 2014
Langganan:
Komentar (Atom)